aku menangisi ibu kota yin

Berbuat adillah kau Langit
kau telah melanggar hukum!
Mengapa semua rakyatku
kau tenggelamkan dalam suasana kegegeran ?

Orang-orang satu sama lain saling bunuh
cerai-berai — berlumuran darah,
Di bulan-bulan damai musim semi
mereka maju menyerbu ke timur.

Dari tanah kelahiran
masuk ke tanah asing yang jauh.
Sepanjang sungai meregak-reguk
agar bisa mengembara sepanjang masa.

Kami meninggalkan kota —
rasanya seperti mengatupkan jantung !
Pagi ini bersama mereka
aku dikirim ke perjalanan juga.

Kami telah pergi meninggalkan Ibu Kota
menyusur ladang-ladang hijau;
Di kejauhan berselubung kabut,
di manakah batas pengembaraan kita ?

Seketika itu juga dayung-dayung terlempar
dan tak ada tenaga menyelamatkan mereka;
Kami berduka cita — Yang Mulia,
semestinya kami tak pantas hidup !

Oh, pohon Ibu Pertiwi, cukup lama berpisah
cukup lama berkeluh kesah.
Di musim rontok geledek menyambar-nyambar
airmata menetets bercucuran.

Muara kami lewati
dan berlayar sepanjang sungai.
Di manakah Gerbang Naga ?
aku sudah tak kenal lagi.

Hanya hati rindu pada mereka,
hanya kecemasan menguasai pikiran.
Perjalanan sangat jauh, dan tak tahu
di bumi mana aku berada.

Angin menghalau pengembara
mengantar larinya ombak.
Pada ruang tanpa batas
pengembara tanpa lindung !

Dan perahuku membawa aku
ke air bah Yang-hou.
Mendadak terbang seperti burung.
Ingin di manakah tempat singgah ?

Hatiku yang sakit ini
rasanya tak bisa reda.
Dan butir-butir gagasan
rasanya sukar kuhadirkan.

Kubelokkan perahuku
dan kudayung di teduh bayangan,
Mudik menuju Dunting
dan menghilir ke arah Jiang.

Demikianlah sudah meninggalkan
tanah kelahiran nenek moyang,
Dan hari ini, gelombang
telah melempar aku ke timur.

Tapi jiwa tak berubah
berhasrat pulang ke rumah,
Sekejap pun aku tak kuasa
melupakan Ibu Kota.

Sungai Sia di belakangku
dalam pikiranku — tentang barat melulu,
Dan aku menangisi — Yin
padanya selalu dan selalu.

Aku berhenti di pulau
pandangku menembus jauh;
Aku ingin menenangkan
hatiku yang remuk redam.

Di tanah ini aku menangis
bernafas segar dan damai,
Tapi di sini aku berduka – pada manusia-manusia
warisan hidup nenek moyang.

Di sampingku puisi
tanpa akhir tanpa tepi.
Di selatan berselubung kabut —
di sana aku tanpa teduh.

Siapa tahu bila istanamu
merupakan timbunan puing-puing,
Gerbang-gerbang kota
Di mana-mana mayat-mayat berserakan ?

Di masa lalu maupun akhir-akhir ini
tak pernah ada hati lega,
Dari derita ke derita
dan muncullah keyakinan.

Ah, jalan sampai di Yin
jauh dan berbahaya.
Sungai Jiang dan Sia panjang membentang
membatasi rumah dan aku.

Rasanya seperti tak percaya
bahwa aku telah pergi dari rumah,
Sembilan tahun telah terlewati
betapa menderita di tanah asing.

Tentang derita aku tahu
bahwa kesedihan tak bisa diselesaikan.
Demikianlah kehilangan harapan
aku menanggung kesedihan.

Pemerintahan yang tersayang
menunggu tokoh bijak,
Harus jujur — bermurah hati
adil menghadapi semua.

Tanpa memuji, bagiku adalah berbakti.
Aku telah berusaha menjadi orang dekat,
Tapi malah menjadi selubung hitam
dan semua jalan tertutup bagiku.

Hiduplah Yao dan Shun
mereka bertindak mulia,
Dan generasi turun temurun
akan menjunjungnya ke Langit.

Segerombolan kecil orang kecewa
telah mengembangkan kedengkian,
Juga dalam kenyataan
mereka menyebarkan fitnah yang kotor.

Yang Mulia tak pernah berpikir mendalam
siapakah sebenarnya yang berbakti,
Yang Mulia selalu bertindak terburu-buru
dan gampang mabuk pujian.

Pada Yang Mulia berdatangan orang-orang
yang tak lebih cuma sehari.
Pada Yang Mulia mereka tak jujur,
berbuat jauh dan lebih jauh lagi.

Kunyatakan pendirianku
baik di timur maupun di barat.
Oh, suatu waktu, bisakah aku
kembali lagi ke rumahku !

Burung-burung beterbangan
kembali ke sarang mereka.
Dan rubah yang mati
kepalanya masuk ke bukit kuburan.

Tanpa diadili kesalahanku
karena diusir — jadi kembara.
Kejadian itu — siang dan malam
aku tak bisa melupakan !

Oleh: Qu Yan
sumber : A. Kohar ibrahim

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s