DARAH

LIDAH seketika itu jadi kelu tak kuasa menjalani fungsinya untuk mengeluarkan sepatah kata sekalipun. Pasalnya? Kerna darah yang sudah mulai membekukah? Sudah sedemikian rupa jauhnya dampaknya, hingga mau mengucap kata hanya tinggal ngap-ngap, tarikan nafas megap-megap tanpa bisa mengeluarkan suara. Tapi sepertinya memang begitulah tatkala telingaku menangkap suara Dokter Delille mengutarakan diagnosa:

“Anda kekurangan darah. Terkena anemie.”

Aku melongo kayak orang bego. Iya, hanya bisa ngap-ngap tapi sungguh tak sepatah kata pun keluar lewat kedua belah bibirku. Rasa was-was menrajam diri semakin mencengkam. Lebih-lebih ketika sang dokter traitant itu bilang:

“Anda kekurangan darah, lantaran kehilangan darah.”

Kekurangan darah lantaran kehilangan darah? Aku berupaya memutar otak, memras ingatan. Tapi terasa payah sekali. Yang bisa keluar adalah pertanyaan yang bagi sang dokter itu mungkin sekali kurang pas.

“Kekurangan karena kehilangan darah; apakah akibat operasi yang pernah saya alami, dua tahun lalu, Tuan Dokter?”

“Tidak,” katanya penuh keseriusan: “Bukan begitu. Kerna tiga bulan lalu, pada kunjungan terakhir Anda, kesehatan Anda masih normal, kan?”

Aku jadi tambah gugup dan gagap. Hanya mengangguk pelan. Dalam percakapan, sang dokter juga mengulang bilang pengakuanku, bahwasanya selama tiga bulan belakangan ini aku tak mengunjunginya untuk konsultasi kesehatan, pun tidak pernah ke rumah-sakit untuk berobat. Juga tak pernah mengalami kecelakaan yang menyebabkan kehilangan darah. Aku meng-iya-kan semua konstatasinya, seraya menambah, mengulang-utarakan : “Iya, benar, Monsieur, tak pernah ke rumah-sakit, pun tidak datang untuk konsultasi. Selama tiga bulan belakangan ini.”

Sesaat itu Dokter Delille yang mengangguk-angguk ringan.

“Jadi lantaran apa kiranya, Tuan Dokter?”

“Pendarahan,” ujarnya. “Pendarahan dalam. Apa-bagaimananya, persisnya, itu yang mesti diketahui. Maka dari itu tak ada jalan lain, Anda harus mengalami pemeriksaan secara intensip di rumah-sakit….”

Begitulah detailnya dialog kami ketika konsultasi pada hari Rabu sore itu, teriring kesimpulan dan kesepakatan akan perlunya aku segera berangkat pergi ke rumah-sakit, dengan membawa notisi berupa informasi tentang keadaan kesehatanku yang disiapkan oleh dokter traitant Delille itu.

KETIKA terbaring di atas ranjang berselimut-seprei warna putih yang khusus untuk pasien, setelah diterima di ruang Service des Urgences Klinik Saint-Jean — yang segalanya menunjukkan ke-serba-siap-sigapan itu, cengkaman perasaan dan pikiran yang campur baur terasa begitu kuat dan keras tak mau lepas. Perasaan kegelisah-resahan yang teramat sangat diselang-slinggi akan sadar kesadaran tentang diri sendiri yang lagi tersendiri meski dalam kesibukan keadaan sekitar. Kesibukan para pekerja alias pelayan kesehatan orang-orang yang datang lantaran gangguan kesehatan yang macam-macam tingkat kegawatan yang dideritanya. Tiap-tiap orang dengan penderitaan sakit yang dialaminya masing-masing. Dan hanya oleh masing-masing pula dirasa betapalah penderitaan itu sebenar-benarnya. Yang pasti, tiap orang dan masing-masing pula, masih harus ditambah rasa sakit lainnya yang tak terelakkan. Yakni: rasa was-was. Rasa penasaran akan sebab-musabab apa-kenapanya derita itu sampai merajam diri. Seperti yang aku alami sendiri: kekurangan karena kehilangan darah akibat pendarahan di dalam tubuhku sendiri? Wah! Kapan kapan saja sih aku pernah mengalami pendarahan atau kehilangan darah? Kapan terjadi peristiwa berdarah di bagian dalam maupun yang asalnya dari luar tubuhku sendiri? Kejadian yang tak lepas dari ingatan ataupun yang meninggalkan bekas tak terhapuskan?

Maka, dalam terbaring di ranjang-pasien tubuh telentang pandang mata kadang kala jalang menerawang ruang, layaknya menembus dinding dan langit-langit sampai terbang mengawang ke ruang angkasa tinggi, namun segala mata hati dan mata pikiran pun mata imajinasi hanya bertumpu pada perihal darah dan rangkai-jaringan atau kaitannya dengan soal yang menjadi persoalanku: Anemie. Sepatah kata yang baru jadi tumpuan perhatianku. Iya: Anemie alias Kekurangan Darah. Napa? Lantaran kurang makan? Seingatku pernah atau kadang kala merasakan lapar memang iya. Tapi tak pernah mengalami kelaparan yang gawat dan berkepanjangan. Lantaran penghisapan? Seingatku, tak pernah ketemu makhluk macam Drakula atau sebangsa penghisap darah lainnya — baik jenis laki-laki ataupun perempuan. Tak seorangpun, seingatku, yang mampu menghisap darahku. Yang pernah dan lebih sering aku alami adalah hisap penghisapan nyamuk. Hahaha…! Tapi itu dahulu, ketika aku masih muda, ketika masih bocah malah. Di Indonesia tanah tumpah darahku — bumi dimana aku dilahir-besarkan. Iya. Semasa itu pula kadang kala, sesekali, aku kena hisap penghisapan lintah ketika kiprah mengolah sawah atau mencari ikan di kali atau di sawah. Tapi semua itu merupakan kehilangan darah yang kiranya tak seberapa adanya. Dan sang nyamuk seringkali kena ganjaran yang selaras oleh tabokan tapak tanganku. Sedangkan sang lintah yang kurang-ajar jadi penghisap betisku pun dapat ganjaran setimpal. Ganjaran, ketika aku biarkan melakukan kejahatannya sampai pulang ke rumah, lalu menerima hukuman mati dengan mandi sekaligus tentunya juga minum air tembako yang aku siapkan seperlunya. Setelah menggeliat-geliat lantas sang lintah melepas gigit-hisapannya, terjatuh menggelinding sendiri dengan perut gendutnya seperti lagi bunting saja nampaknya. “Laknat! Dasar penghisap darah…!” tambah rajamanku terhadap binatang menjijikkan itu dengan menghujamnya berupa umpatan.

“Tapi, sebelum itu, ketika masih bocah, bukankah pernah mengalami kehilangan darah yang lumayan juga?” mendadak sontak muncul pertanyaan yang mencoba menyegarkan dari sang Ingatan. “Ketika untuk selama dua-tiga minggu tidak bisa lagi bertepuk tangan menyambut pasukan kaum gerilyawan, maupun berlari-lari bersama kanca-konco ngintilin mereka dengan gembira campur bangga. Tidak bisa secara leluasa menampak kaum pejuang kemerdekaan itu begitu bersemangat, gagah berani, kendati hanya beberapa orang saja yang memanggul bedil sedangkan selebihnya kebanyakan hanya bersenjatakan bambu-runcing. Pemanggul bambu-runcing yang paling depan, yang di tengah dan paling belakang, sekaligus juga pembawa kibaran bendera merah putih — dengan senjata tajamnya itu sebagai alat pengibarnya. Iya, untuk beberapa lama kau tak bisa lagi mengelu-elukan mereka sembari tepuk tangan melonjak-lonjak. Setelah kehilangan darah. Tegasnya: setelah berdarah-darah lantaran disunat…”

“Hahaha…” gelak tawaku meledak, tapi juga hanya dalam hati; nyatanya hanya menyeringis. Cengis-ringis bermakna dobel: senang kesenangan atau sakit kesakitan. Pasalnya, pada masa itu aku masih bocah, belum banyak tahu seluk-beluk hidup kehidupan — seperti perihal pasukan pejuang rakyat itu. Iya, belum pula menyadari bagaimana persisnya suasana medan pertempuran malawan pasukan bersenjata kaum penjajah Belanda; bagaimana kaum lasykar rakyat itu berlaga membela kemerdekaan tanah-rumpah-darah Indonesia. Bagaimana mereka menghadapi berondongan senjata api atau tusukan ujung bayonet musuh. Dan bagaimana pula serdadu musuh kena hujaman ujung senjata bambu-runcing pasukan bersenjata rakyat itu. Bayanganku, dari tubuh pihak yang saling berjibaku itu, darah pasti keluar akibat tembusan peluru ataukah tusukan ujung bayonet atau ujung bambu-runcing. Tapi segala konsekwensi tidak membuat kaum yang berdarah juang itu jadi kendur apa lagi mundur, sebaliknya malah maju, selaras nada irama lagu yang dinyanyikan mereka sendiri selagi baris-berbaris itu: “Maju tak gentar, membela yang benar”. Nada irama lagu yang mampu pula membikin massa rakyat tergugah untuk mendukung para pejuang itu meski hanya di garis belakang. Dalam pada itu, sekaitan dengan ketajaman ujung bambu itu? Oh, iya. Ini dia: yang pasti, lantaran aku yang rasa merasakan sendiri: ujung bambu atau belahan bambu yang ditipiskan atau malah kulit bambu bisa sebagai alat pemotong yang tiada bedanya dengan golok atau pisau. Iya, begitulah adanya: masih jelas dalam ingatanku. Ah, betapa aku sumringah tersenyum, meringis ria dan bahkan tertawa-tawa ketika menyaksikan malam pesta khitanan dengan tanggapan wayang-kulit. Terutama sekali ketika menyaksikan adegan dagelan Cepot-Udel. Dan betapa ringis-ria bangga menyaksikan tokoh Gatotkaca yang dengan gagah mengalahkan lawan-lawannya yang durjana. Sejak bocah aku memang jadi pengagum sang Gatotkaca yang gagah perkasa dan bisa terbang mengawang di angkasa itu. Maka dari itu, aku enggan kalau diminta untuk meninggalkan adegan seru sang Gatotkaca berlaga.

“Biar saja jagoan itu terus berperang, kini sudah tengah malam, Gatotkaca cilik mesti tidur,” begitu telingaku menangkap suara seorang perempuan, yang aku kenal sebagai penyabar — suara Bibi Ruminah yang lazim aku panggil “Mbi Iyum”. Lanjutnya: “Ibu sudah siapkan tempat tidur, Cecep musti ngasoh. Supaya siap bangun pagi-pagi sekali besok. Lakon pertarungan Gatotkaca akan berkelanjutan, makin hebat deh….!”

Antara mau dan tidak aku hanya bisa cengis-ringis. Meski baru dikemudian hari aku bisa memahami kedalaman makna ujar kata bibiku itu, namun ketika itu, aku akhirnya menuruti saja. Sebenar-benarnyalah kedalaman makna ujar katanya itu adalah bahwasanya memang benar terjadi. Kejadian yang merupakan pertanda penting keberadaanku sebagai manusia, sebagai lelaki, meskipun masih kanak-kanak. Setelah waktu subuh, menjelang jam lima pagi aku sudah dibangunkan untuk dimandikan. Mandi bukan di ruang mandi dekat sumur, tapi dibawa ke kali digendong oleh Ki Santri alias ahli penyunat, dengan diiringi oleh Wak Eneng yang mewakili Abah dan sekaligus tuanrumah pesta upacara khitananku, dan beberapa pengiring lainnya.

Sungguh terasa dinginnya udara pagi buta itu, begitu dinginnya pula air kali. Setelah dimandikan aku dibawa pulang juga dengan digendong; bukan oleh ahli penyunat, melainkan oleh Wak Eneng. Aku rasakan sekali kehangatan kasih-sayangnya terhadapku, yang memang dianggapnya sebagai anak-kandungnya sendiri. Kehangatan kasih-sayang yang membikin rasa senang, menghilangkan rasa ketakutan, meski terasa badanku lagi menggigil lantaran kedinginan. Rasa dingin yang masih amat dingin meski sudah ganti pakaian dengan mengenakan kemeja dan sarung baru, tanpa celana dalam; terduduk dikursi, dengan di kawal kanan kiri. Sedang Wak Eneng di posisi belakangku, memegangi kedua belah bahuku, seraya berpesan supaya aku tenang dan tabah. Aku berupaya untuk tenang, memang, meski masih menggigil kedinginan. Namun, rasa kedinginan ini pula yang mungkin sekali membikin aku seperti tidak terlalu merasakan hilangnya ujung kulit yang membungkus alat kemaluanku. Meskipun alat pemotongnya tak lain kecuali kulit-bambu yang tajam ketajamannya seperti melebihi pisau biasa. Aku sedikit mengaduh. Tentu saja darah keluar. Meski tak pula aku rasakan benar. Doa teriring pembubuhan obat serta pembalutan yang siap-sigap dari Ki Santri yang benar-benar menunjukkan keahliannya itu, hanya membikin aku nangis sebentar saja. Tangis yang terhenti seketika pada saat Ibu kandungku datang dengan tatapan penuh kasih sayang. Senyum sembari menyangkutkan tas-kain-tebal yang talinya cukup panjang menggelantung di pinggang kiriku. Wajahnya sumringah tapi kentara bola matanya lantas membasah. Mencium dahiku. Meski tanpa mengeluarkan ujarkata tapi aku yakin hati sanubarinya sedang terus mengucap kata doa, supaya anak lelaki tunggalnya senantiasa tabah. Tabah menghadapi ujian: masa kekinian pun di hari kemudian. Aku yakini itu, lantaran aku kenal sekali Ibuku. Kelemah-lembutannya pertanda yang tak dapat diragukan selaku seorang ibu, selaku wanita sejati. Dan aku juga tidak ragu akan doa restu seantero anggota keluarga besar kami lainnya. Apa pula yang dari Mbi Iyum, yang datang seraya bilang dengan nada girang: “Cep, tabah yah? Lakon Gatotkaca masih terus berlangsung-sambung….” Suara bibiku ini lagi-lagi membikin aku cengis-ceringis nyaris tawa kecil campur tangis. Tawa kecilku keluar lantaran sembari mengucap kalimatnya sedemikian itu diapun memasukkan segenggam uang receh ke dalam kantong besar bak tas dari kain bikinan Ibu itu. Disusul susul menyusul orang yang lain-lainnya. Entah berapa orang banyaknya yang memberikan restu sembari mengisi tas-kain yang cukup besar buatan ibu-kandungku itu. Sehingga beratnya tak bisa aku angkat sendiri dan capek untuk menghitungnya.

Iya. Tentu saja: aku memang senang, memang bangga, dikhitan dengan disertai pesta silaturahmi sekalian keluarga dan handai-taulan serta para tetangga sekampung. Apa pula menerima restu sekalian hadiah uang receh dan bentuk-bentuk hadiah lainnya yang jadi penambah ketabah-gembiraan hati sekaligus pengurang derita sakit lantaran sunatan itu. Yang katanya hanya seminggu atau sepuluh hari akan sembuh dan bisa berjalan secara normal kembali, tapi yang aku alami iyalah hampir tiga minggu lamanya. Setelah itu baru benar-benar aku bisa berjalan dan bahkan berlari-lari seperti biasa lagi. Bahkan kian hari kian lama sudah bisa melupakan hari yang terasa begitu dingin sehingga tubuhku mengigil berat sesudah dimandikan di kali di pagi buta.

Meskipun bekasnya membekas abadi, ah, semenjak itu, darah yang tertumpah untuk pertamakalinya dari dalam tubuhku tak pernah terpikirkan lagi. Tak pernah pula ada perasaan akan kehilangan darah. Sepertinya itu sudah menjadi keharusan sejarah dalam menelusuri perjalanan hidup kehidupanku. Sebagai lelaki. Dengan segala kelelakianku. Sepanjang panjang usia dewasaku juga jarang teringat saat yang bersejarah selagi bocah itu. Layaknya memang sudah lumrah saja. Hanya belakangan ini saja aku jadi teringat dan kerap mengingat-renungkannya lagi dan lagi. Betapa makna pentingnya. Terutama pentingnya makna memaknai akan darah itu sendiri. Darah yang merupakan cairan essensil yang amat diperlukan bagi hidup kehidupan manusia. Manusia dewasa laki-laki memerlukan darah sebanyak lima liter, sedangkan perempuan empat-setengah liter.

“Kekurangan darah: anemie; kehabisan darah: mati!” kata sang Ingatan tenang tapi benar kebenarannya jelas, kuat dan keras, nyaring seperti canang. ***

(Digubah dalam bentuk cerpen dari sebagian catatan harian selaku pelaku kisah biografis: “Sitoyen Saint-Jean. Antara Hidup Dan Mati” A.Kohar Ibrahim, April 2008)
==================================

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s