Undangan Dari Masyarakat Budaya Nusantara

Masyarakat Budaya Nusantara
Diumumkan pada Festival Pasar Kumandang, Surakarta
Tanggal 20 Mei 2008
Oleh
Endo Suanda dan Suprapto Suryodharmo

Pengantar:
Saudara-saudara sekalian yang saya hormati:
Dalam 40-an tahun terakhir ini, sepertinya kita
tergiring pada kehidupan yang makin mengerucut
pada kelompok atau kepentingan masing-masing:
makin sektoral. Suatu sistem yang umumnya baru
tertangkap pada tingkatan formalis, belum
terpahami mendalam, membuat kita tergegas
mengikuti logika modernisme yang seolah
“universal” dan kemudian dijadikan “standard”:
semacam satu untuk semua, seperti ukuran baju
yang one fits all. Dorongan global yang merambah
pelbagai sektor, pun cenderung menerapkan suatu
system pengelolaan dan penilaian produk-kerja
dengan ukuran ala modernisme tersebut. Semangat
kompetisi atau prinsip menang-kalah, selalu
membujuk. Kita terperosok pada upaya peraihan
kepentingan yang terkotak-kotak. Sedangkan
kekuatan masing-masing tak berimbang, sangat
timpang. Maka terciptalah ketidakadilan, baik
secara politik, ekonomi, maupun sosial-budaya.
Sang Kecil menjadi korban Sang Besar.
Sementara itu, di antara kita yang lemah ini,
terjadi konflik-konflik horizontal yang
merugikan, dan menyedihkan. Semangat kebersamaan
terlindas, bahkan tergantikan oleh permusuhan.
Kelemahan menjadi semakin lemah, baik oleh
himpitan kekuasaan luar, maupun oleh kesempitan
wawasan pihak sendiri. Kita cenderung lupa pada
tujuan hidup dan sifat kemanusiaan yang hakiki.
Kita lupa pada ketidaksempurnaan insani. Kita
lupa pada ragam-ragam perbedaan. Yang mencuat
adalah usaha-usaha represif, yang mengarah pada
pengukuhan kekuatan dan kebenaran sepihak, tapi
untuk diberlakukan terhadap semua. Yang sejatinya
sektoral itu dirumuskan sebagai universal.
Birokrasi pun seakan berjalan tanpa dasar moral.
Jika di tingkat mikro kita menderita krisis
segregasi yang memprihatinkan. Di tingkat makro,
kita dilanda krisis global yang mengerikan, yakni
rusaknya planet bumi sebagai akibat dari cara
hidup insan yang menuruti pandangan atau rayuan
“standard modernisme” tersebut. Krisis jagat ini
akan berlangsung terus, akan semakin parah, akan
semakin rumit; yang tak akan ada obatnya kecuali
dengan pandangan dan prilaku hidup baru yang lebih dewasa.
Kebudayaan, sejatinya adalah refleksi konkret
dari filsafat hidup manusia sebagai mahluk di
bumi, yang terwujud dalam prilaku. Dalam
kebudayaan, berbagai kepentingan dari
sektor-sektor kehidupan teranyam, yang
mengental menjadi “jatidiri” insani: secara
individu dan sosial, secara filosofis dan
praktis, normatif dan kreatif, logis dan intuitif
sekaligus. Jatidiri itulah yang merupakan tempat
penggodogan nilai-nilai, yang akan menuntun
tindakan secara seimbang pada setiap langkah,
sesuai dengan desa (ruang), kala (waktu), dan
patra (situasi). Anyaman itu, dalam wujud sosial
yang utama adalah semangat bebrayan,
kekeluargaan, sharing: untuk saling
membahagiakan, dan bukan untuk memenangkan diri
dengan menghancurkan yang lain.
Memang, kita kini menghadapi dua tantangan
teramat sulit. Pertama adalah untuk mampu
bergumul, terlibat dalam jaringan besar (tataran
nasional maupun global); dan kedua adalah dalam
pergumulan lingkungan kecil, yakni dalam kelompok
atau lingkup-lingkup lokal kita masing-masing.
Kedua tantangan itu menuntut kearifan,
kedewasaan, dalam meningkatkan kemampuan bekerja
dan belajar, bicara dan mendengar, berpikir dan
merenung, berkumpul dan berpisah.
Demi terwujudnya forum bebrayan dalam
ke-bhineka-tunggal-ika-an kita, terkuatkannya
rasa kebersamaan, saling pengertian, saling
hormat, dan saling mencerdaskan dalam menjalani
kehidupan yang selalu berubah ini, kegiatan
kebudayaan perlu kita tumbuhkan, secara menerus:
untuk bisa saling lihat, saling dengar, saling
rasakan, saling belajar, saling nikmati, dan
saling peduli.Kebudayaan termaksud, dalam
pengertian yang seluas-luasnya mencapai
pengetahuan dan pemikiran; dan dalam pengertian
yang sesempit-sempitnya berupa kegiatan nyata,
sekecil apa pun. Maka, dengan niat untuk mencapai
tujuan tersebut, kami mendirikan suatu jaringan
kerja yang terbuka kepada siapa pun, sebagai berikut:

Pada hari ini, Selasa 20 Mei tahun 2008, tanggal
14 Pon Jumadil-Awal tahun 1429 Hijriyah, pada
hari Kebangkitan Nasional Indonesia yang
keseratus, yang bertepatan pula dengan tanggal
bulan purnama, kami sebagai warga bangsa
Indonesia dengan ini mengumumkan berdirinya
Masyarakat Budaya Nusantara, dengan tujuan untuk
meningkatkan partisipasi aktif masyarakat dalam
membangun keharmonisan berbangsa dan bernegara
melalui kegiatan-kegiatan kebudayaan yang
bermanfaat bagi kehidupan umat, dengan semangat
bebrayan, tanpa membedakan ras, etnis, agama,
profesi, jender dan usia. Hal-hal yang
berhubungan dengan pengaturan organisasi, rencana
kerja, dan rumusan-rumusan lainnya, akan kami
lakukan dengan cara seksama yang seadil-adilnya,
dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnja.
Surakarta, 20 Mei 2008,
Pendukung:
* Suprapto Suryodharmo (Surakarta)
* Endo Suanda (Bandung)
* M. Yamin (Mataram)
* Putri Yunifa (Yogyakarta)
* Acep Zamzam Noor (Tasikmalaya)
* Achmad Fauzi (Surabaya)
* Budiyatmi (Manado)
* Putu Wijaya (Jakarta)
* Roedy Haryo Widjono, AMZ (Samarinda)
* Sugi Lanus (Denpasar)
* Bulantrisna Djelantik (Denpasar)
* Edy Utama (Padang)
* Asman Azis (Samarinda)
* Butet Kartaredjasa (Yogyakarta)
* Yayah Khisbiyah (Jakarta)
* Syamsurijal Ad’han (Makassar)
* Aristides Katoppo (Jakarta)
* Jilal Mardhani (Jakarta)
* Rithaony Hutajulu (Medan)
* Didik Nini Thowok (Yogyakarta)
* Rizaldi Siagian (Medan-Jakarta)
* Suhadi Hadiwinoto (Jakarta)
* Heni Winahyu (Yogyakarta)
* Kasan Mulyono (Sumbawa Barat)
* Julianus Liembeng (Medan-Jakarta)
* FX Widaryanto (Bandung)
* Catrini Pratihari Kubontubuh (Jakarta)
* Josef Prijotomo (Surabaya)
* Hamid Basyaib (Jakarta)
* Yanti Heriyawati (Bandung)
* Ignatius Haryanto (Jakarta)
* Yoyoh Siti Masriyah (Bandung)
* Satria Dharma (Balikpapan)
* Anastasia Melati (Yogyakarta)
* Djoko Darwanto (Bandung)
* Triyanti Nugraheni (Bandung)
* Bambang Boedjono (Jakarta)
* Sutara H. Suanda (Oregon, USA)
* Eni Erliani (Bandung)
* Aryo Danusiri (Jakarta)
* Rina Martiara (Yogyakarta)
* Dédé Oetomo (Surabaya)
* Daruni (Yogyakarta)
* Otto Sidharta (Jakarta)
* Ni Nyoman Sudewi (Yogyakarta)
* Abdullah Naim (Tenggarong)
* Merah Johansyah Ismail (Samarinda)
* Muhammad Taufiq Bilfagih (Samarinda)
* Marfu’atin Muthaharoh (Samarinda)
* Mujahidah Mansyur (Samarinda)
* Mashud (Samarinda)
* Setiawan Sabana (Bandung)
* Carolous Tuah (Samarinda)
* Laila Rachmawati (Samarinda)
* Sumarmi (Samarinda)
* Ratnawati (Bontang)
* Ramlia Nur (Tenggarong)
* Sahabuddin (Tenggarong)
* Widya Wijayanti (Semarang)
* Kasmani (Tenggarong)
* Erma Wulandari (Tenggarong)
* Musdalifah (Samarinda)
* Rubito (Sangatta)
* Heru Prasetya (Surakarta)
* Anna J. Widati (Surakarta)
* Winarto (Surakarta)
* Agung Priyo Wibowo (Surakarta)
* Sri Hastuti (Yogyakarta)
* Ruslan Rahman (Kendari)
* Bambang Pujasworo (Yogyakarta)
* Hongky Listiyadhi (Bangka)
* Agus Kosamah (Sorong)
* Slamet A. Sjukur (Jakarta)
* Sirikit Syah (Surabaya)
* Agus Sardjono (Jakarta)
* Bambang Priatmono (Sangata)
* Toto Arifin S. (Yogyakarta)
* Reza Pamungkas (Bandung)
* Ati Kurniati Meulila (Bandung)
* Djamaluddin Sharief (Banda Aceh)
* Agus Bing (Yogyakarta)
* Dani Sudradjat (Yogyakarta)
* Abdul Malik (Mojokerto)
* Hardiman (Singaraja)

Dukungan dapat disampaikan via email ke:
Bapak Endo Suanda, email: esuanda@lpsn.org

2 Komentar

  1. Mas Endo, tampaknya cukup banyak orang yang berminat mengembangkan Masyarakat Budaya Nusantara.

  2. masyarakat budaya…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s